SKANDAL BROWNIES

Mendua. Duhhhh, ini kata yang menjadi momok setiap pasangan. Tak hanya perempuan, laki-laki juga pasti sakit hati jika diduakan. Dan baru-baru ini isu menduakan terdengar dari seorang ustadz beken yang terkenal itu. Dengan mengecewakan sang ustadz telah menjadi pelaku perselingkuhan meskipun yang bersangkutan mengatakan itu bukan selingkuh tapi poligami. Beneran saya kecewa, karena saya sempat ngefans sm ustadz yang ganteng itu. Ah tapi ustadz juga manusia, dia bisa tergelincir juga. Dan saya sebagai perempuan (asikkkk, beneran perempuan) di sini pun ikut kecewa…
Perselingkuhan disadari atau tidak sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya di tipi-tipi, di sekitaran kita juga banyak kok, mulai level rendah sampai udah level tingkat dewa. Ahhhh, saya paling membenci kata perselingkuhan itu, jadi bagaimana kalau kita ganti saja istilahnya yaaa? Apa ya yang bagus? Mendua tadi saja ya.
Seperti telah saya singgung diatas, hati yang mendua biasa terjadi di level yang paling rendah. Social media sangat berperan dalam hal ini dan biasanya urusan hati yang mendua ini tidak jauh dari yang namanya clbk alias cinta lama bersemi kembali (ahaiiiii,abg banget ini mah). Tapi tidak menutup kemungkinan juga, cinta yang baru hadir kembali. Duh.
Sedianya, media social adalah ajang untuk bersilaturahmi bagi teman atau saudara yang tinggal berjauhan. Tapi yang namanya setan kan memang ada dimana-mana ya, jadi social media pun menjadi ajang untuk mencari cinta pula. Kemarin saya sempat membaca artikel yang menyebutkan untuk jangan memamerkan kebahagiaan keluarga di social media, karena di luar sana banyak orang-orang yang bakalan iri dengan kebahagiaan itu dan berusaha menghancurkan kebahagiaan itu dngan berbagai cara salah satunya adalah dengan menggoda pasangan kita.
Secara naluri perempuan, saya membenarkan isi artikel tersebut. Dengan mudahnya akses media social,l maka akan semakin mudah pula untuk menjalin suatu hubungan melalui social media. Tinggal tambahkan sebagai teman, terima lalu cringgg, percakapan pun bisa mengalir dengan lancar. Kenapa saya bilang mendua level rendah? Saat kita mempunyai hubungan dengan orang lain lalu melakukan percakapan dengan orang itu, mulai merasa nyaman dengannya dan mulai menghapus prcakapan-percakapan yang terjadi sebelum sampai di rumah maka mohon maaf, secara tidak sadar kita sudah mendua. Menduakan pasangan dengan teman kita tersebut. Masih rendah karena hanya sebatas percakapan biasa saja. Mendua, karena bahkan percakapan kita tersebut tidak boleh dilihat oleh pasangan. Hufttt… ambil nafas.
Level rendah itu bisa meningkat jika kita tidak menghentikan intensitasnya. Dengan tetap saling berbagi cerita, maka tingkat kenyamanan yang diperoleh pun semakin tinggi. Rasa nyaman akan menghasilkan rasa suka dan ini bahaya. Bukannya bermaksud membedakan gender, tapi saya sebagai perempuan merasa bahwa pihak perempuan adalah penentu terjadi atau tidaknya kelanjutan cerita mendua ini. Laki-laki dimanapun kodratnya sama, suka melihat keindahan, dan syukur pada Tuhan, semua wanita diciptakan begitu indah dan menawan. Sehingga jika perempuannya ini memberikan sinyal positif, maka bukanlah hal yang mustahil bagi si laki-laki untuk terus lengket padanya dan melupakan perempuannya sendiri di rumah. Apakah yang di rumah ini salah? Belum tentu, karena disadari atau tidak, intensitas pertemuan yang sering bisa menimbulkan kebosanan atau katakanlah menimbulkan suasana yang monoton sedangkan dengan yang jarang bertemu, masih baru, dengan percakapan-percakapan yang menggebu-gebu penuh cerita ceria dan ‘bukan’ milik sah menjadi semacam tantangan, memacu adrenalin untuk mendapatkannya.
Sebagai perempuan, saya merasa bahwa kaum saya lebih memiliki rasa menahan yang besar sehingga saya seringkali mengelus dada jika justru pihak perempuan lah yang menjadi penggoda, perebut lelaki orang atau bahasa kerennya sekarang pelakor. Kok bisa ya? Itu yang selalu menjadi pertanyaan saya. Dan sejujur-jujurnya saya tidak terlalu mempercayai adanya persahabatan dengan lawan jenis di usia yang matang, karena di dalamnya hampir bisa dipastikan, ada rasa suka dan nyaman nyelip takterkendali.
Jadi teman-teman, bahkan menduakan hati sangat simple proses terjadinya kan. Lambat sekali, bahkan tidak terasa. Sesimpel kata-kata, “ aku suka banget sama brownies, beneran nih boleh nitip brownies?” Ah, itu awal yang manis kan? Semanis brownies. Tapi jika dilanjutkan bukan tidak mungkin akan ada kata-kata lain yang jauh lebih manis dan mendayu. Yang semakin menambah kenyamanan dan kedekatan. Dan berakhir dengan pecah. Mari ngopi.


Ehem, mulai menemukan inti yang dibahas, mulai menusuk, dan membuat orang mantuk mantuk, heheheheh
ReplyDeleteTengkiuuu,suhu.. Mantuk2 gimana? Mengiyakan atau ngantuk?
DeleteWaah....brownies... Bener. tusukannya jelas, mak jleb. Waktu menulis, sambil merengut gemes ga? :)
ReplyDeleteHehehe.. Makasihhhh koreksinya.. Sambil merengut manjah ala incess Syahrini...
Delete