RANDU RINDU
Tentang Randu. Randu adalah pohon yang biasanya tumbuh di desa-desa sebagai penghasil kapas yang kemudian diproduksi untuk menjadi kasur, bantal dan guling. Seringkali randu tumbuh tanpa ada niat benar-benar menanamnya. Randu dibiarkan begitu saja tumbuh, tanpa di siram atau dipupuk untuk kemudian pada waktunya dimanfaatkan. Randu adalah sebuah pohon yang tidak terlalu rindang tetapi terlihat sangat kokoh. Kayunya yang sudah cukup umur dapat dimanfaatkan untuk membuat meja, kursi atau bahkan lemari. Tidak, tentu saja tidak berdosa untuk memanfaatkan pohon randu tersebut meskipun kita tidak bermaksud menanam pun tidak mau merawatnya.
Pada saatnya tiba, pohon randu itu berbunga sangat cantik yang tak lama kemudian menjadi buah yang sangat lebat, lebih lebat dari daun-daunnya. Pada awalnya buah itu berwarna hijau, semakin menua, warnanya berubah kecoklatan, dan saat kering sempurna, maka warnanya pun menjadi coklat sempurna.
Pada saat itulah, orang-orang beramai-ramai memanennya. Beramai-ramai, karena si pohon randu memang tak mempunyai pemilik. Randu adalah pohon yang bebas, boleh dimiliki siapa saja, kecuali kalau dia tumbuh di lahan milik orang tertentu, maka sudah pasti, randu itu menjadi milik sang pemilik lahan. Buahnya yang sudah tua dengan sempurna, adakalanya merekah, memperlihatkan isi di dalamnya. Kapas-kapas putih yang empuk yang masih bercampur dengan bijinya, yang oleh orang Jawa disebut ‘Klenteng’. Sementara yang belum merekah, cukup dipukul sedikit, maka kulit buahnya akan terbuka.
Anak-anak kecil biasanya berebut kapas-kapas itu. Untuk ditiup-tiupkan ke udara. Agar mencapai angkasa, dimana impian mereka berada. Atau cukuplah untuk menggoda teman-temannya, karena kapas randu yang lengket di rambut sangat susah dibersihkan. Berlarian mengejar kapas-kapas yang ringan beterbangan itu, memamerkan keceriaan yang tiada duanya. (ah, tiba-tiba saya merindukan masa kanak-kanak itu).
Sementara, orang-orang dewasa bekerjasama mengambil buah-buah tersebut. Biasanya mereka memakai tiang yang panjang, untuk disundulkan ke kumpulan buah randu tersebut yang kemudian berjatuhan. Buah-buah yang berjatuhan itu dipungut, dibagi dengan rata. Sambil mengobrol ringan, sambil bercanda, kadang juga sambil membicarakan orang lain. Buah-buah yang merekah sekalian dibelah, dipisahkan antara kapuk kapasnya, dengan klenteng dan kulit buahnya. Kapuk kapas-kapuk kapas tersebut dikumpulkan dikarung, sebagai persediaan mengganti bantal, guling, atau kasur yang sudah mulai kempis.
Sementara klentengnya menjadi mainan anak2 mereka maka kulit buahnya pun bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar pawon. Lalu saat benar-benar tua, dengan menyedihkan, si pohon randu pun ditebang, diubah menjadi meja, kursi, lemari, pintu dan sebagainya. Dan nasib kehidupan sang pohon randu pun berakhir di situ.
Hari ini, sepulang mengantarkan anak saya sekolah, saya berjumpa dengan si randu. Daun-daunnya seolah melambai-lambai kepada saya, mengatakan dia jarang sekali dipandang orang akhir-akhir ini. Dia bilang, dia merindukan riuh canda anak-anak yang bermain dengan kapas-kapasnya dan orang-orang yang memanen dirinya. Dia merasa sungguh sangat kesepian, bahkan buah-buahnya tak ada lagi yang mau mengambilnya, apalagi memainkannya. Dia bilang, kapuk kapasnya rindu terbang ke angkasa, karena dibiarkan jatuh dan membusuk di tanah. Karena orang-orang sudah tidak mau lagi mencium bau kapuk, alergi katanya. Karena orang-orang mulai meninggalkan kasur dari kapuk dan menggantinya dengan spring-bed, agar lebih praktis dan tidak ndeso katanya. Saya sungguh terenyuh dan saya tiba-tiba saja merindukan mencium aroma kapas randu yang baru di panen. Pagi yang mendung ini, saya ditemani teh hangat di sela-sela rapat dan entah mengapa saya masih terus memikirkan si randu.
Pada saatnya tiba, pohon randu itu berbunga sangat cantik yang tak lama kemudian menjadi buah yang sangat lebat, lebih lebat dari daun-daunnya. Pada awalnya buah itu berwarna hijau, semakin menua, warnanya berubah kecoklatan, dan saat kering sempurna, maka warnanya pun menjadi coklat sempurna.
Pada saat itulah, orang-orang beramai-ramai memanennya. Beramai-ramai, karena si pohon randu memang tak mempunyai pemilik. Randu adalah pohon yang bebas, boleh dimiliki siapa saja, kecuali kalau dia tumbuh di lahan milik orang tertentu, maka sudah pasti, randu itu menjadi milik sang pemilik lahan. Buahnya yang sudah tua dengan sempurna, adakalanya merekah, memperlihatkan isi di dalamnya. Kapas-kapas putih yang empuk yang masih bercampur dengan bijinya, yang oleh orang Jawa disebut ‘Klenteng’. Sementara yang belum merekah, cukup dipukul sedikit, maka kulit buahnya akan terbuka.
Anak-anak kecil biasanya berebut kapas-kapas itu. Untuk ditiup-tiupkan ke udara. Agar mencapai angkasa, dimana impian mereka berada. Atau cukuplah untuk menggoda teman-temannya, karena kapas randu yang lengket di rambut sangat susah dibersihkan. Berlarian mengejar kapas-kapas yang ringan beterbangan itu, memamerkan keceriaan yang tiada duanya. (ah, tiba-tiba saya merindukan masa kanak-kanak itu).
Sementara, orang-orang dewasa bekerjasama mengambil buah-buah tersebut. Biasanya mereka memakai tiang yang panjang, untuk disundulkan ke kumpulan buah randu tersebut yang kemudian berjatuhan. Buah-buah yang berjatuhan itu dipungut, dibagi dengan rata. Sambil mengobrol ringan, sambil bercanda, kadang juga sambil membicarakan orang lain. Buah-buah yang merekah sekalian dibelah, dipisahkan antara kapuk kapasnya, dengan klenteng dan kulit buahnya. Kapuk kapas-kapuk kapas tersebut dikumpulkan dikarung, sebagai persediaan mengganti bantal, guling, atau kasur yang sudah mulai kempis.
Sementara klentengnya menjadi mainan anak2 mereka maka kulit buahnya pun bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar pawon. Lalu saat benar-benar tua, dengan menyedihkan, si pohon randu pun ditebang, diubah menjadi meja, kursi, lemari, pintu dan sebagainya. Dan nasib kehidupan sang pohon randu pun berakhir di situ.
Hari ini, sepulang mengantarkan anak saya sekolah, saya berjumpa dengan si randu. Daun-daunnya seolah melambai-lambai kepada saya, mengatakan dia jarang sekali dipandang orang akhir-akhir ini. Dia bilang, dia merindukan riuh canda anak-anak yang bermain dengan kapas-kapasnya dan orang-orang yang memanen dirinya. Dia merasa sungguh sangat kesepian, bahkan buah-buahnya tak ada lagi yang mau mengambilnya, apalagi memainkannya. Dia bilang, kapuk kapasnya rindu terbang ke angkasa, karena dibiarkan jatuh dan membusuk di tanah. Karena orang-orang sudah tidak mau lagi mencium bau kapuk, alergi katanya. Karena orang-orang mulai meninggalkan kasur dari kapuk dan menggantinya dengan spring-bed, agar lebih praktis dan tidak ndeso katanya. Saya sungguh terenyuh dan saya tiba-tiba saja merindukan mencium aroma kapas randu yang baru di panen. Pagi yang mendung ini, saya ditemani teh hangat di sela-sela rapat dan entah mengapa saya masih terus memikirkan si randu.



Comments
Post a Comment