Goodbye Chester

Chester Bennington, vocalis Linkin’ Park, band kesukaan saya, meninggal dunia jumat lalu. Saya shock, sedih, ikut merasakan patah hati dengan kepergiannya. Yang lebih mengejutkan, dia memilih bunuh diri. Dia kaya, tampan, punya banyak anak, punya banyak fans, terkenal,dan terlihat bahagia, ternyata memilih bunuh diri. Apa yang salah dalam hidupnya? Selama beberapa hari terakhir saya membaca beberapa artikel tentang dia dan merasa sangat sedih untuknya, karena dia telah melalui hidup yang sangat berat. Dia bisa bertahan sampai kemarin itupun sudah sangat luar biasa.

Paradigma bunuh diri yang umumnya sering dianggap sebagai sempitnya pikiran dan kurangnya iman tidak sepenuhnya benar. Untuk kita yang tidak pernah memiliki masalah dalam hidup atau selalu mempunyai orang-orang yang senantiasa mendukung dan memberikan pelukan pada kita, kemungkinan untuk terhindar dari commit suicide memang besar. Tapi kecenderungan yang ada di masyarakat saat ini adalah ketidak pedulian. Dan ini yang membuat beberapa orang atau bahkan banyak orang merasa sendirian dan menimbulkan benih depresi yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Saya berusaha tidak menghakimi orang-orang yang memilih bunuh diri karena saya mencoba memahami jalan berpikir mereka. Karena saya pun pernah memiliki pemikiran yang sama dengan mereka.

Committing suicide pastinya adalah tindakan yang sangat dibenci Allah sesuai dengan agama yang saya yakini. Tapi, beberapa orang yang memilih atau berpikiran melakukan itu memang melakukannya agar segera berjumpa dengan Dia. Karena mereka percaya, hanya Dia yang bisa menerima, memeluk mereka dengan segala permasalahan mereka tanpa menyalah-nyalahkan mereka. Keputusan itu diambil saat mereka merasa sudah penuh sesak dengan beban dan hampir meledak. Mereka ingin secepatnya berjumpa dengan Dia. Pulang kepadaNya. Itu salah satu pemikiran yang saya simpulkan, karena itulah yang saya fikirkan saat sempat kepikiran commiting suicide.

Kenapa saya sampai kepikiran suicide? Kondisi psikologis seorang ibu yang baru melahirkan itu porak poranda. Apalagi jika mengalami trauma. Apalagi ditambah adaptasi lingkungan baru yang belum terbiasa ditinggali secara utuh. Tahun lalu, saat melahirkan anak kedua yang saya harap-harapkan, yang kami sekeluarga tunggu, saya mengalami masalah. Anak saya alhamdullilah lahir normal dan sehat, tetapi plasentanya tidak bisa keluar dengan normal. Entah berapa tangan bidan yang dimasukkan ke jalur persalinan saya, sakitnya luar biasa, yang jelas itu menimbulkan rasa trauma. Hingga saya harus mengalami kuret 2 kali untuk membersihkan plasenta di Rahim saya. Iya, saya bisa menahan sakitnya, tapi rasa trauma itu tetap tertinggal di jiwa saya. 2 hari saya terpisah dari bayi saya yang seharusnya saya timang dan susui langsung. Dari situ saya mengalami baby blues. Kerap kali saya menangis sendirian, tanpa sebab, merasa sia-sia, merasa tidak berguna, terutama ketika suami saya harus kembali bekerja jauh dari saya. Saya tidak bicara kepada siapapun tentang keadaan saya pada waktu itu dan depresi saya pun semakin menjadi. Pun, tak ada yang bertanya pada saya apakah saya baik-baik saja karena secara fisik saya memang terlihat baik-baik saja. Padahal saat itu saya berpikir, kenapa saya tidak mati saja. Kalau saya mati, pasti tidak ada kesakitan itu, tak ada kesedihan aneh yang saya alami. Untunglah saya memiliki sahabat-sahabat yang meskipun hanya melalui dunia maya, selalu menyapa saya, menanyakan kabar saya. Pada merekalah saya mengeluhkan perasaan saya dan dengan dukungan tulus mereka,pelukan dan cium virtual dari mereka, mampu membangkitkan kesadaran saya, bahwa saya harus tetap hidup, bahwa masih ada banyak hal yang masih harus saya selesaikan.

Mungkin itulah yang dirasakan orang-orang yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Perasaan tidak berguna, lonely, merasa tidak dibutuhkan, itulah pemicunya. Jangan memberikan dalil-dalil agama, itu tidak akan masuk dalam akal sehat mereka. Daripada hanya memberikan dalil dan menganggap mereka aneh, lebih baik lakukan aksi nyata. Ajak mereka gabung mengaji misalnya.Yang mereka butuhkan adalah kepercayaan, pelukan tulus yang mengisyaratkan dukungan. Perasaan bahwa mereka masih di butuhkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Mereka tidak gila, tapi iya, mereka sedang bermasalah dengan kejiwaannya dan yang mereka butuhkan adalah kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Dan dalam banyak kasus, baik itu suicide survivor maupun pelaku suicide yang memilih memendam rapat-rapat perasaannya, kesedihannya, untuk dia sendiri. Walaupun dari luar they look fine as normal people but deep inside, they are broken. Chester Bennington mungkin salah satu orang yang terus menyembunyikan kesedihannya, menyimpannya rapat-rapat di dalam hatinya berpura-pura bahagia dan menikmati hidupnya sehingga bahkan orang terdekatnya pun tak tahu -atau tak peduli? RIP Chester Bennington, semoga Dia sudah memelukmu dengan hangat di sana. 


Comments

  1. You'll never be alone... 😙

    ReplyDelete
  2. Beruntung Mbak Chi masih "terdengar" suaranya, depresi memang sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan akal sehat, tapi bisa diraih dan dirangkul melalui simpati.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts