MENULIS


Jengjengjenggggg...

Menulis ya.
Bisa dikatakan saya adalah 'prolific reader' alias pembaca yang rakus. Iya, saya sangat suka membaca. Bahkan majalah Bobo pun tak luput untuk menjadi obyek yang saya baca. Kadang saya membaca yang agak-agak berat seperti halnya politik atau hukum dan berakhir dengan kepala pusing atau tetiba tidur sambil mencium buku tebal itu. Begitupun materi-materi kuliah dulu kalau pas lagi bolong hati ya saya suka-suka saja membacanya, tapi jika sudah kecapekan maka buku-buku tersebut terbawa ke dalam dunia mimpi saya. Alhamdullilahnya, hampir selalu ada lah yang sedikit nyantol di kepala.

Sementara itu, untuk hal menulis. Pada dasarnya saya juga menyukai menulis. Pun saya menyukai tulisan-tulisan yang dibuat teman-teman saya. Sejauh ini saya hanya menjadi penikmat tulisan, belum tersentuh untuk mulai menulis. Em, sebenarnya sih sudah sedikit menulis-nulis tapi lagi-lagi sifat saya yang suka menunda-nunda segala sesuatu pun menjadi hambatan untuk terus menulis. Saya selalu beralasan nanti ajalah, kalau ada ide. Giliran dapat ide, nanti ajalah tunggu waktu luang. Dan saat ada waktu luang, nanti-nanti ajalah saya nulisnya. Selalu begitu dan berujung dengan tidak adanya kegiatan produktif menulis.

Kemudian semua kecanduan menulis. Teman-teman, saudara, kenalan-kenalan, semua memiliki karya. Dan saya hanya mampu terdiam, iri, ingin sekali seperti mereka. Menulis. Menulis apaaa saja. Yang penting menulis. Sehingga saya memulai kembali setelah seorang ‘friend in crime’ mencolek saya dengan karya tulisannya. Saya tergugu. Tersentak. Lalu jemari saya pun bergerak. Merangkai huruf-huruf menjadi kata-kata, kata-kata menjadi untaian kalimat. Mungkin bagus, mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang saya sadari. Menulis ya menulis, jangan menunggu ini itu. Tuliskanlah apa yang ada di hati, yang ada di pikiran, jangan berhenti sebelum jemari tak bisa menari lagi. Tak perlu menunggu ide, tak perlu mencari inspirasi. Semua itu akan datang manakala jemari kita sudah berada di atas keyboard, siap mengetikkan huruf-huruf menjadi sebuah tulisan. Kurang lebih professor saya pernah mengatakan, ‘menulislah, jika engkau ingin dikenang’. Tentu saja saya tidak ingin hanya dikenang saat saya suatu saat nanti tidak ada lagi. Saya ingin selalu diingat bahkan saat saya masih ada, lagi sehat. Jadi mengapa tidak menghasilkan tulisan?

Menulis juga merupakan sarana untuk mempertajam ingatan. Seperti dulu waktu jaman SMA, saya selalu menulis ulang materi pelajaran yang disampaikan guru-guru saya karena dengan cara menuliskannya itulah saya bisa mengingatnya dengan mudah. Nah, sekarang pun saya menyadari mengapa saya begitu pelupa, karena saya jarang menulis. Saat ini, saya ingin produktif menulis. Topiknya apa saja, yang penting saya bisa kembali menulis, karena itu tajuk blog saya adalah suka-suka. Bagi saya,menulis dengan ditemani kopi, sungguh nikmat sekali. Sayang, di hari yang panas terik begini, tak cocok minum kopi. Coklat dingin, bolehlah.

Comments

  1. See...kalau sdh mulai, langsung tancap gas kaan...? Go ahead...lanjut lanjut....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts