KELOMPOK BERMAIN VS KELOMPOK BELAJAR

PAUD aka pendidikan usia dini dimaksudkan untuk mendidik anak-anak yang masih berusia di bawah lima tahun. Namun pada kenyataannya, sekarang sudah banyak sekali anak-anak yang bahkan baru berusia belum tiga tahun sudah dimasukkan ke paud. Alasannya utamanya agar anak belajar lebih dini. Karena usia emas anak-anak untuk menyerap segala sesuatu dengan cepat adalah pada usia-usia tersebut. Akan tetapi sebenarnya itu bukanlah alasan yang sebenar-benarnya alasan. Beberapa orang tua membutuhkan paud untuk menitipkan anak-anaknya karena mereka terlalu rempong dengan urusan-urusan di rumah ataupun di luar rumah. Beberapa lagi memang berkeinginan anak-anaknya belajar lebih dini, tapi sungguh tujuannya adalah agar bisa dipamerkan ke sanak keluarga yang lain, kolega atau bahkan musuh bebuyutannya, agar anaknya nampak ‘lebih’ pintar dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pun ada juga yang terpaksa memaudkan anaknya karena si anak yang terus-menerus meminta bersekolah seperti anak saya, hiks.
Saya sangat setuju dengan para pakar anak yang mengatakan bahwa sebaiknya anak tidak dimasukkan sekolah terlalu dini karena hal ini akan memacu kebosanan anak pada saat dia benar-benar masuk usia sekolah. Karena sejak bayi dia sudah bersekolah, maka sekolah bukan lagi menjadi sesuatu yang luar biasa untuknya berinteraksi dan belajar, sehingga dia pun terpuruk dalam kebosanan dan si orang tua pun menjadi marah-marah karenanya. Padahal, siapakah yang salah dalam hal ini? You know who.
Pun saat saya benar-menar menyekolahkan anak saya di paud lalu TK, saya mempelajari bahwa terlalu banyak isi yang dimasukkan, yang menurut saya belum waktunya benar-benar dipelajari anak. Tahu sendiri kan kalau terlalu banyak isi yang dimasukkan hasilnya bagaimana? Tumpah. Iya, semuanya tumpah ruah tak karuan. Dan PR? Duh, yang benar saja. Anak-anak sekecil itu pun sudah dibebani dengan PR.
Sepanjang yang saya ketahui tentang paud dan TK, seharusnya yang didapatkan anak-anak di masa ini adalah pembelajaran tentang interaksi dengan teman sebaya, dengan alam sekitar dan dengan orang lain. Semuanya disampaikan melalui permainan atau kegiatan-kegiatan yang ‘fun’. Yang saya dapati di Lapangan adalah, anak-anak benar-benar diberikan materi. Iya, materi berhitung, materi membaca, materi menulis dan materi menghafal. That’s too much. Memang benar, ada permainan-permainan, ada menggambar-menggambar, tetapi intensitasnya tidak lebih banyak dari materi belajar. Dalam sehari, anak-anak bisa mendapatkan keseluruhan materi. Don’t you think that it is too much?
Padahal, peraturan dari pemerintah sangatlah jelas. Tidak ada pembelajaran di usia paud maupun TK. Paud dan TK adalah kelompok bermain. Dimana nilai-nilai moral dan perilaku yang baik mulai diperkenalkan di usia tersbut. Melalui permainan tentu saja. Atau kegiatan-kegiatan lain yang fun. Antri misalnya. Bisa diajarkan melalui permainan. Bagaimana caranya? Ambillah contoh, alat permainannya dibatasi, jadi kalau mau main harus gantian aka harus antri. As simple as that. Jika boleh saya bilang, pembentukan karakter anak yang baik lah yang bisa dimulai dari sini, dari kelompok bermain ini, yang tentu saja bekerjasama bahu membahu dengan orang tua siswa dan lingkungan sekitar. Masalah materi pembelajaran, bisa mengikuti nanti. Saat anak-anak berkarakter kuat dan baik, inshaallah kepintaran akademik akan mengikuti. Hal itulah yang terus menerus saya tekankan pada anak saya. Saya selalu bilang, mama tidak ingin anak yang pintar. Mama ingin anak yang sopan, santun penuh kebaikan. Meskipun ini juga selalu menjadi pertentangan bahkan dengan keluarga saya sendiri, tapi saya terus menekankan ini pada anak-anak saya. Pfft.
Adapun hal-hal yang menyebabkan paud dan TK selalu menyelipkan materi-materi pelajaran seperti calistung adalah tuntutan dari SD, tempat belajar anak selanjutnya. Beberapa SD bahkan mengadakan tes calistung untuk calon anak-anak didiknya. Padahal dari pemerintah sudah jelas ditekankan, tidak boleh ada tes calistung. Tapi karena sekolah-sekolah swasta memiliki hak otonomi untuk membuat standard mereka sendiri dan mereka menyetandarkan siswa-siswinya bisa baca tulis, akhirnya sekolah-sekolah negeri pun mengikuti persyaratan tersebut agar tidak tergerus alur modernisasi. Siswa kelas 1 atau 2 SD les? Sudah bukan hal yang mengherankan lagi, karena beban tugas mereka yang sungguh cukup berat untuk anak-anak seusia mereka.
Kasihan, sungguh kasihan. Padahal seusia mereka dulu, saya baru belajar mengeja dan menghitung. Padahal seusia mereka dulu, saya masih berkumpul dengan teman-teman, asyik mencari undur-undur dengan bunga sepatu sebagai pancingan. bahkan seusia mereka dulu saya masih sempat bermain kasti, petak umpet, sawah-sawahan dan sebagainya. Sekarang, waktu mereka hanya belajar. Sekarang dikit-dikit gadget untuk membuka goggle yang bisa membantu menjawab sebuah pertanyaan.
Bahkan profesi guru yang saya pilih pun tidak membuat saya memaksa mengajarkan bahasa Inggris sejak dini pada anak saya. Tak apa, itu bisa dipelajari nanti. Kecuali untuk mengaji, sungguh saya memaksa anak saya untuk terus belajar mengaji. Menghafal, itulah satu-satunya materi yang cocok untuk anak-anak berusia emas. Bukan menghafal hitungan, tapi menghafalkan kebaikan agar kemudian diamalkan. Dan hati saya masih terus bertanya, kemana pendidikan ini dibawa. Sambil minum Milo hangat pagi ini, hati saya pun berkelana.


Setuju banget, keras untuk pendidikan agamanya, ngajinya, namun santai aja ke pelajaran umum, gt aja deh, heheheheh
ReplyDelete