COFFEE SHOP VS BARBERSHOP
Apakah yang sedang menjamur belakangan ini? Yups! Coffee shop dan barbershop selain juga online shop yang banyak digemari macan-macan muda..lol. Kali ini kita cukup membahas coffe shop dan barber shop saja ya, online shopnya nanti saja kalau saya sudah belanja. Ada materi sih benernya, tapi ntar aja dibahas.
Coffee shop aka warung kopi memang belakangan ini banyak didirikan dimana-mana. Ada yang di dalam mall-mall eksklusif, ada yang berdiri sendiri di tempat-tempat strategis dan ada pula yang berdiri di jalan-jalan. Hampir semuanya dilengkapi dengan fasilitas free wifi. Kopinya? Bayar dong, masa gratisan semua. Akan tetapi ada jurang yang tinggi antara yang bernama coffee shop dengan warung kopi, meskipun secara kebahasaan artinya tidaklah berbeda, hanya saja yang satu memakai bahasa inggris keren satunya memakai bahasa Indonesia mantap. Jurang tingginya dimana? Ada di mana-mana. Dari segi fasilitas, ragam sajian dan cara penyajian, sajian pendamping, dan harga. Mungkin juga pengunjungnya.
Fasilitas yang ditawarkan warung kopi, mungkin hanya wifi gratis yang biasa saja kecepatannya(warung kopi yang beneran lho ya, karena ada warung kopi yang menyimpang, dan kita tidak sedang membahas yang itu. Nanti kapan-kapan kalau sudah pernah saya singgahi, mungkin kita bisa bahas). Sementara coffee shop biasanya sudah memfasilitasi wifi dengan kecepatan yang tinggi dan ekslusif yang hanya bisa digunakan oleh pengunjungnya. Selain wifi, fasilitas yang lain juga ada dong. Penyaji yang fresh, muda, bersih dan ramah adalah salah satu yang ditawarkan coffee shop. Tapi jangan salah, ibu-ibu penyaji di warung kopi juga sangat ramah. Dengan senyum yang tidak dibuat-buat yang kadang diselingi roman judes yang membuat kita ngikik tertahan, membuat warung kopi tetap rame dikunjungi.
Ragam sajian dari sebuah coffee shop pun beragam. Mulai dari jenis kopinya sampai sajian pendampingnya. Kopinya ada Espresso,Cappuccino, Mochacino,Machiato, Americano,dan sebagainya. Kopi-kopi tersebut berbeda sekali cara penyajian dan rasanya. Espresso misalnya. Espresso adalah jenis sajian kopi favorit saya jika berkunjung ke coffee shop. Bisa dibilang espresso adalah inti kopi, ekstraknya kopi yang disajikan. Rasanya pahit. Biasanya disajikan dengan cangkir yang kecil banget. Saya suka mencampurkannya dengan gula yang agak banyak. Kental, pahit dan manis. Perpaduan rasa yang sempurna menurut saya. Mbak/mas coffee maker suka salah mengantarkan pesanan biasanya. Espresso disajikan untuk pak suami, sementara saya dikasih cappuccino. Lha wong pak suami gak suka ngopi kok dikasih espresso.wekawekaweka.Meskipun saya juga agak iri sih, karena cangkir cappuccino lebih gede dibandingkan espresso. Udah gitu, pakai dihias-hias pula. Nah cappuccino ini adalah kopi yang ringan menurut saya. Terlalu banyak susu dan krim. Cocok untuk pemula coffeeholic. Terlalu panjang kalau kita bahas kopinya satu-satu ya. Itu hanya dua contoh kopi yang disajikan coffee shop ya. Sedangkan di warung kopi, sajian kopinya tentu saja kopi hitam, kopi tubruk, kopi sachetan. Mau manis atau pahit, tinggal bilang ke ibu/mbak/mas penjualnya. Sederhana. Tapi saya juga sangat menyukainya. Bagi penyuka kopi macam saya, kopi tubruk tentulah kopi yang sangat sedap. Sampai-sampai sahabat Amrik saya selalu minta dibuatkan segelas kopi tubruk ke ibu warung kalau pas datang ke Indonesia. Kadang biji kopi yang tidak terlalu halus itu tergigit, sedap betul rasanya. Kopi sachetan juga oke. Instan, sudah ada gula dan susunya jika suka. Kalau lagi rame-rame, paling enak ya ngopi pakai kopi sachetan. Rame-rame gak harus mahal kan?
Untuk makanan pedamping di warung kopi, yang paling juara tentu saja adalah mie instan. Hmmmm, jadi ngiler ngebayanginnya. Lap dulu ah.. Entahlah, buat saya, mie instan buatan warung memang lebih enak. Panas-panas, mienya setengah matang, minta dikasih cabe rawit banyak-banyak. Dijamin, flu dan masuk angin minggat. Selain mie instan, tentu saja gorengan (bukan wajannya ya, tapi hasil produksinya), cemilan-cemilan tradisional, telor puyuh, usus, kerupuk. Beuhh, sedap betulllll. Sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, cemil sana cemil sini, takterasa perut pun kenyang, kepala pun penuh informasi dan inspirasi. Kadang diiringi lagu-lagu Jawa atau dangdut atau kolaborasi semacam Mendem Kangen yang dinyanyikan grup Soneta atau Moneta atau apalah itu. Sementara, di coffee shop, makanan pendampingnya tentu saja gak jauh dari roti-rotian dan pasta. Roti bakar, spaggetti, cheese banana, Chicken crispy, French fries dan kawan-kawan adalah ragam sajian pendamping di coffee shop. Enak gak? Ya enaklahhhh. Semua makanan itu enak tau, kalau bilang gak enak, coba ingat-ingatlah saudara kita di Somalia yang sedang kelaparan. Masih bilang gak enak? Berarti kurang bersyukur. Hiks
Terakhir tentang coffee shop dan warung kopi, tentu saja jurang tertingginya ada di harga. Harga bawa rupa? Betul sekali. Coffee shop, karena mereka membayar pajak yang tinggi dengan kualitas sajian mereka yang dari bahan-bahan pilihan, tentu saja mematok harga yang cukup tinggi. Harga terendah di coffee shop langganan saya adalah 7 ribu rupiah, untuk secangkir kecil espresso, 10 ribu rupiah untuk cappuccinonya. Sementara makanan pendampingnya, harganya lebih tinggi lagi. French fries berharga sekitar 12 ribu rupiah. (Saya gak pernah beli, pelit yak?) Sementara, di warung kopi, cukup dengan 2 ribu rupiah sudah dapat segelas kopi. Mau kopi tubruk, kopi moka, cappuccino, harganya sama. Rasanya? Tentu saja sedap lah. Makanan pendampingnya juga sangat merakyat, dengan harga minimal 500 perak, makanan-makanan yang gurih dan atau legit siap di proses di lambung kita yang kelaparan.
Lalu, apa hubungannya coffee shop aka warung kopi dengan barbershop? Ya gak ada hubungan. Beda pemilik, beda yang disajikan. Jadi benar-benar tidak ada hubungan. Bahkan mereka tidak pernah berhubungan atau putus hubungan. Meskipun mereka sebenarnya cocok satu dngan yang lainnya. Lalu mengapa judulnya coffee shop vs barbershop? Ya suka-suka saya dong, blognya juga blog saya. Terserah saya juga kan ngasih judul apa.. hehehe. Piss, jangan ngamuk ya beib, dibaca aja lanjutannya. Seperti saya bilang tadi, coffee shop dan barbershop memang tidak ada hubungannya meskipun cocok satu sama lain. Suatu saat nanti (sambil menerawang jauh) saya bermaksud menghubungkannya, menyatukannya dalam sebuah ikatan yang suci. Hmmm. Why so serious?
Nah, barbershop aka tukang cukur rambut ini juga sedang ngetrend akhir-akhir ini. Biasanya tempatnya tidak terlalu besar, kecil saja dengan dilengkapi pendingin ruangan dan majalah-majalah tentang style rambut yang sedang ngehits dan tentu saja pomade yang sedang mendapatkan gaungnya belakangan in, yang membuat pengunjungnya cukup betah menunggu giliran dieksekusi. Hah, apaan itu pomade? Pomade adalah sejenis krim untuk membentuk rambut sesuai dengan style yang disukai si pemilik rambut. Rata-rata membuat rambut kaku agar stylenya tidak berubah meskipun kena angin badai dan hujan. Jenis-jenis pomade pun bermacam-macam. Ada yang agak basah, ada yang langsung kaku dan kering. Harganya pun bermacam-macam. Yang dijual bebas di pasaran, bisa didapatkan dengan harga minimal 20k. Awet, ada yang beraroma coklat yang mengakibatkan rasa relax bagi pemakai atau orang yang dekat dengan si pemakai. Sedangkan pomade yang dijual di barbershop, banyak yang hasil racikan dari si tukang cukur sendiri, dengan resep rahasia tentunya, sehingga harganya pun relative lebih mahal dari pomade pabrikan. Harga termurah, kalau saya tidak salah lihat 65k. Tentu saja lebih awet dari pomade pabrikan. Mungkin kalau pake pomade yang khusus itu, rambut bisa tahan dari terjangan gelombang ombak di lautan kali yak. Pak suami belum pernah beli sih, jadi saya juga tidak tahu. Yaa, maklum, seperti yang saya bilang tadi, saya kan pelit. :D
Syle potongan rambut yang ditawarkan di barbershop ini cukup beragam, sayangnya saya kurang tau nama-nama sytle rambut tersebut, saya taunya cuman model jabrik aja sih wekaweka. Tapi cakep-cakep bener lho modelnya. Selain mencukur, barber shop juga menawarkan tato rambut atau mereka selalu pakai bahasa keren, hair tattoo. Harga untuk hair tattoo ini tentu saja lebih mahal dari kisaran harga hair cut biasa. Sekitar 25k ke atas deh tergantung model tatonya. Bukan beneran ditato ya, tapi rambutnya itu dikreasi gitu motongnya, dibentuk bergerigi atau garis lurus atau motif-motif yang lain. Keren deh pokoknya. Biasanya harga untuk anak-anak lebih murah dari harga dewasa. Akhir-akhir ini, kalau tempat potong rambut biasa ngantri luar biasa panjang, pak suami suka ngajak anaknya potong rambut ke barbershop, sekali-kali, katanya. Toh harganya juga tidak jauh berbeda dari tukang potong rambut biasa.
Lalu apa bedanya dengan tukang potong rambut biasa? Untuk harga anak-anak, tidak terlalu banyak bedanya, karena saya pernah nyukurin rambut anak saya dan kena charge 15k, lebih mahal dari barbershop yang hanya mematok hrg 12,5k untuk anak-anak. Untuk orang dewasa, rentang harganya memang cukup signifikan. Di tukang rambut biasa harganya maksimal 15k, sementara di barbershop mencapai 25k. mayan banget kannnnn… Cukuplah itu buat beli cabe yang lagi mahal-mahalnya. Makanya saya bilang sama pak suami, jangan sering-sering ke barbershop, tekor nih Bandar. :P
Style rambut yang ditawarkan pun bermacam-macam, tetapi mereka tidak menawarkan tato rambut. Potong biasa, dibersihkan pake bedak , selesai. Sedangkan di barbershop biasanya diakhiri dengan ritual cuci rambut dan sedikit pijatan.
Sebagai pendamping, saya hanya bisa mengamati saja. Tidak pernah ingin mencoba tato rambut, pun pomadenya. Tapi saya suka gaya mereka setelah potong rambut di barbershop, sepertinya mereka lebih fresh. Mungkin karena ada relaksasi hasil pijatan si pemotong rambut tadi kali ya, jd lebih fresh gitu kelihatannya. Terus, mereka, si bapak dan si anak itu, mungkin berasa artis papan atas kali ya, abis potong terus kibas-kibas rambut. Bikin keki.
Pembaca yang budiman, sudahkah anda menemukan benang merah barbershop dan coffee shop ini? Ingatkah, bahwa saya ingin menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci? Jika anda ingin mewujudkannya pun, sangat silahkan. Jadi, sebagai penggemar kopi dan sebagai pendamping yang selalu menemani suami dan anaknya cukur rambut (atau hanya saya istri yang ikut saat suami potong rambut ya?), saya membayangkan sebuah barbershop yang dilengkapi dengan coffee shop. Voila! Got it? Yups, it’s all about business. Jadi, menurut bayangan saya, pastilah sempurna itu barbershop jika diperluas sedikit, lalu dilengkapi dengan coffee shop sehingga, para pengunjung yang menunggu giliran dicukur atau para istri yang menunggu suami dan anak mereka bercukur, juga bisa menikmati waktu di tempat itu sambil menikmati kopi atau sajian yang dijual di situ. Asik kan ya? Bercukur sekalian nongkrong dan bersantai.
Saya, penikmat kopi, tetap memiliki kopi favorit. Kopi buatan ibu saya tidak ada duanya. Entahlah, mungkin karena dibuat dengan penuh cinta. Kopi buatan saya tak pernah seenak buatan beliau lho. Sampai sekarang, saat saya sakau kopi, saya pasti meminta beliau membuatkan kopi untuk saya, bukan karena saya malas membuat ya, tapi memang karena saya sangat memuja kopi buatan beliau. Stress dan capek rasanya langsung hilang seketika. Duh, jadi pengen ngopi sambil diiringi lantunan piano yang dimainkan berondong cakep unyu-unyu.
SMANT, Bojonegoro
8 Mei 2017
13.00 BBWI
Lomba Siswa Berprestasi


kapan ngopi lagi? ndik kantin pasca sambil makan kacang n ngobrol ma pak har? hahahhahaha
ReplyDelete