Setiap orang memiliki air matanya sendiri-sendiri. Kata-kata tersebut terasa menusuk hati, ketika seorang teman mengatakannya. Bahkan dia tidak berusaha menyinggung siapa-siapa, tapi entah mengapa saya merasa tatapan matanya saat mengatakan itu tertuju pada saya, bukan yang lain. Padahal saya tak pernah menangis di depannya, tapi entahlah, saya mungkin yang terlalu perasa.
Dari kata-kata itu saya mengerti, setiap orang memiliki masalah, yang sangat berat bagi mereka meskipun kita mungkin melihatnya sebagai suatu masalah yang sepele. Dan membuat empati saya terhadap teman-teman yang lain semakin tinggi, karena saya menyadari bukan hanya saya yang sedang menangis. Orang-orang di sekeliling saya pun banyak yang sedang menangis, tanpa saya sadari.
Gelas yang pecah memang tak mungkin utuh kembali, bahkan tak mungkin digunakan kembali. membersihkan pecahannya pun banyak resikonya, kena jari dan berdarah-darah. Serumit itu hanya karena sebuah gelas. Tapi yang seharusnya dilakukan memang membersihkannya. Bagaimanapun resikonya. Untuk memperbaiki apalagi menyimpan seusatu yang sudah rusak, afkir, tak ada gunanya lagi. Bersihkan, sakit dan berdarah-darah sebentar, obati, ganti dengan yang baru.
Itu hanya sebuah gelas, belum masalah yang lain. Dan benar, setiap orang memiliki air matanya sendiri. Banyak sekali yang menyimpannya dalam diam dan seolah tidak ada apapun yang terjadi. Karena itu, perbesar empati. Sebisa mungkin berusaha mengerti orang-orang di sekeliling kita. Menyediakan telinga saat mereka butuh bercerita, menyediakan bahu ketika mereka butuh sandaran untuk duka mereka. Hati menjadi lapang, kesabaran pun semakin terpuji. Inshaallah mengantarkan kita ke level kehidupan yang lebih tinggi. Aaminn.
Pada akhirnya nanti, akan ada masa di mana kita tidak hanya berterimakasih pada orang-orang yang telah begitu baik kepada kita, yang memberikan waktunya mendengarkan curahan emosi kita namun juga rasa terimakasih pada orang-orang yang telah begitu jahatnya memperlakukan kita. Karena dari perilaku itulah, kita tidak tumbang, namun justru berdiri dengan lebih kokoh dan tidak mudah rapuh.
Pada akhirnya nanti, akan tiba masanya kita merefleksi, bahwa sejatinya memang semua orang memiliki air matanya sendiri-sendiri, karena hidup ini adalah tentang berproses dan berjuang. Tidak ada proses yang selalu manis, karena yang manis bukanlah perjuangan, itu saya.


Comments
Post a Comment